Perlukah Bersikap Egois Saat Fase Berduka?

     Beberapa minggu yang lalu, saya kehilangan sesosok orang yang sangat saya cintai dalam hidup saya, yaitu ayah kandung saya sendiri. Beliau meninggal setelah enam tahun lamanya berjuang melawan penyakit stroke dan diabetes. Diantara tahun-tahun tersebut, beberapa kali kami harus melihat ayah berada di dalam kondisi kritis serta berjuang mati-matian melawan penyakitnya. Tentu saja menyaksikannya cukup memberatkan hati kami sekeluaga. Saya sendiri bahkan pernah berada pada satu titik yang membuat saya berpikir untuk belajar menyiapkan hati saya jikalau saja suatu saat ayah saya akhirnya pergi, yang pada nyatanya, kita tidak akan pernah benar-benar bisa siap, tidak akan pernah !

    Hari dimana ibu saya mengabari bahwa ayah saya telah pergi untuk selama-lamanya adalah suatu senja di bulan Februari, tepatnya sekitar pukul lima sore. Beliau meninggal di RS Siloam Labuan Bajo. Dikarenakan pandemi yang sedang berlangsung petugas di RS hanya mengizinkan satu  anggota keluarga saja yang boleh menemani pasien. Pada hari itu, saya yang tidak berada di tempat yang lain entah kenapa seperti mendapatkan firasat. Sejak pagi, perasaan tidak enak sudah menghantui saya.  Saya bahkan bersiap dan mengepak semua tas saya dan berpikir jikalau saat itu benar-benar datang, setidaknya saya bisa dengan segera berangkat ke RS dan bersama keluarga kembali ke kampung halaman, yang jaraknya cukup jauh dari kota tempat ayah saya dirawat. 

    Hari pertama, kedua dan ketiga pasca kematian saya masih berada bersama seluruh keluarga besar di rumah, rangkaian prosesi agama dan adat saya ikuti dengan baik, berpura-pura tegar sebab saya anak pertama di dalam keluarga, menangis itu pasti tapi tidak bisa selepas yang lainnya. Pada awalnya saya dikuatkan dengan pemikiran bahwa "Ayah sudah sembuh" atau "Ayah sudah berada di tempat yang lebih baik". Beberapa hari setelahnya,  saya kembali pulang ke kota tempat saya melanjutkan pendidikan saya dan kembali menjadi anak kos, yang tinggal sendiri di kos dan harus mandiri (sebenarnya jauh dari keluarga juga cukup baik untuk kondisi emosional saya).  

    Hari pertama setelah jauh dari keluarga membuat topeng sayapun terlepas.  Segera saja perasaan gelap dan kelam menyelimuti seluruh kehidupan saya. Saya, yang sebelumnya adalah seorang yang periang, ekstrovert, penuh semangat dan cukup aktif berubah menjadi pribadi yang berbeda, menjadi orang yang seperti bukan diri saya, dan terus merasa ketakutan luar biasa. Pertanyaan seperti bagaimana saya bisa hidup tanpa pendukung dan pembela terbesar saya membuat saya ingin selalu menangis. Kondisi tersebut ternyata berujung membuat saya tidak suka bersosialisasi, menghindari pertemuan dengan teman terdekat, percakapan panjang atau melakukan aktivitas-aktivitas yang saya sukai sebelumnya. Buruknya adalah, berbicara sedikit saja membuat saya merasa lelah luar biasa, belum lagi ditambah serangan panik yang datang beberapa kali, terlebih di malam hari.  

    Sebagai orang yang bersekolah di bidang kesehatan tentu saja saya mempelajari bagaimana tahapan berduka itu terjadi, saya paham bahwa ada beberapa fase yang harus dilewati pada masa-masa itu. Akan tetapi, kondisi ini cukup menyakiti saya dan membuat saya semakin lelah baik secara fisik maupun mental. Pikiran bagaimana jika orang-orang menjadi tidak nyaman dengan saya yang sekarang, sebab saya dan perasaan bersalah karena bersikap dingin dan  ingin sendirian saja berlawanan dengan diri saya yang sebelumnya. Kondisi ini menempatkan saya pada dilema.  Apakah saya harus mementingkan perasaan berduka saya, atau berusaha secepat mungkin untuk kembali menjadi diri saya yang sebelumnya ? Dengan harapan agar terhindar dari perasaan bersalah yang meski tidaklah normal tapi tetap muncul juga.  

    Setelah beberapa saat, saya memberanikan menulis status di media sosial terkait kondisi yang saya alami dan mendapatkan respon yang cukup menenangkan dari teman-teman saya. Saya tidak sendiri, kondisi yang saya alami adalah normal selama masa-masa awal fase berduka. Salah satu teman saya yang juga kehilangan salah satu orang tuanya bahkan mengatakan bahwa di masa-masa awal ia bahkan tidak berbicara pada seluruh teman-teman di kosnya, beberapa lainnya juga ternyata mengalami kondisi yang mirip yaitu kondisi "ingin sepenuhnya sendiri", merasa tidak akan dimengerti (padahal mungkin orang lain memahami) dan rapuh. Sederhananya itu adalah masa di mana kami merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa bersalah seperti yang saya alami yang ternyata bisa diatasi seiring berjalannya waktu. What a relief ...

  Setelah dipikirkan, bukanlah masalah jika saya atau bisa saja kamu bersikap sedikit "egois". Dalam artian kita boleh  dan berhak mengikuti apa yang hati kita inginkan untuk menyalurkan rasa sedih yang kita alami. Jika ingin sendirian maka menyendirilah, masuk dan kuncilah kamarmu, jika tidak ingin berbicara dengan siapapun, diam dan tenanglah! lakukan segala sesuatu yang bisa membuat kita merasa "ringan". Karena jika kita tetap memaksakan diri untuk bersikap "ceria" atau "kuat" agar tidak mengecewakan lingkungan, maka proses penyembuhan hati bisa berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Tidak masalah belajar bersikap "egois" untuk kesembuhan diri sendiri, toh orang-orang yang benar mencintai kita, tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kita.  

    So, oleh karena itu disinilah saya, berada di dalam kamar,mengunci diri dan membuat tulisan ini, setelah berhari-hari hanya diliputi oleh perasaan hancur kehilangan sosok penting dan perasaan bersalah karena menjadi "berubah" dan tidak seperti diri saya yang dulu lagi. Saya berharap, saya ataupun siapa saja yang mungkin mengalami hal yang sama seperti yang saya alami dan membaca tulisan memiliki keberanian untuk bisa menyayangi diri sendiri, untuk mau mengasihani diri sendiri dan untuk belajar mendengarkan apa yang tubuh, hati dan pikiran kita inginkan. Sehingga, pada saatnya nanti,  kondisi kita bisa perlahan-lahan membaik, luka karena duka mengering dan senyum di wajah kita perlahan merekah kembali. Sekian dan terima kasih

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGHIBURAN DARI BUNGA ASOKA

Old Tree and Poetry

In the Middle of Somewhere